KONOHANEWS, LOMBOK TENGAH — Sebanyak 352 siswa dari sejumlah sekolah di Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan mengalami pusing, mual, muntah, dan sakit perut setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG, Jumat, 11 September 2026.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana ramai ketika sejumlah siswa SDN Beber dibawa untuk memperoleh pertolongan medis. Orang tua, guru, petugas, dan warga terlihat membantu proses evakuasi anak-anak menuju fasilitas kesehatan.
Laporan awal menyebut 179 siswa SDN Beber mendapatkan perawatan di Puskesmas Pringgarata. Setelah dilakukan pendataan lanjutan, jumlah siswa yang mengalami keluhan dilaporkan bertambah menjadi 352 orang dari beberapa sekolah.
Para siswa mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain Puskesmas Pringgarata, Aik Darek, Mantang, dan Bagu. Sebagian siswa dengan gejala ringan juga sempat ditempatkan di aula kantor kecamatan karena ruang pelayanan puskesmas terbatas.
Tenaga kesehatan menyatakan mayoritas siswa mengalami gejala ringan hingga sedang. Setelah menjalani pemeriksaan dan observasi, seluruh siswa dilaporkan telah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
Menu MBG yang diterima siswa dilaporkan dipasok oleh SPPG Mekar Bersatu di Kecamatan Batukliang. Sampel makanan telah diamankan dan dikirim untuk pemeriksaan laboratorium guna mengetahui penyebab pasti munculnya keluhan tersebut.
Polisi juga dilaporkan melakukan pemeriksaan di lokasi pengolahan makanan dan meminta keterangan dari pihak-pihak yang bertanggung jawab atas penyediaan serta pendistribusian menu MBG.
Satgas MBG NTB menyatakan operasional SPPG yang menyalurkan makanan tersebut berpotensi dihentikan sementara sebagai bagian dari evaluasi. Namun, keputusan dan lamanya penghentian masih menunggu hasil pemeriksaan serta kebijakan Badan Gizi Nasional.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada hasil laboratorium yang memastikan makanan MBG sebagai penyebab keluhan para siswa. Karena itu, peristiwa tersebut masih dikategorikan sebagai dugaan keracunan sambil menunggu hasil pemeriksaan resmi.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap proses memasak, penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, serta waktu pembagian makanan kepada siswa. Keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG.

