Konohanews – Situasi mengerikan terjadi di wilayah Bajo Aguan, Honduras utara, setelah sedikitnya 19 orang dilaporkan tewas dalam sebuah pembantaian brutal di area perkebunan kelapa sawit. Peristiwa berdarah itu terjadi pada malam hari di kawasan Rigores yang selama ini dikenal rawan konflik dan dikuasai kelompok bersenjata.
Menurut laporan setempat, para korban diduga merupakan pekerja yang berada di bawah kendali kelompok bersenjata yang selama bertahun-tahun memperebutkan wilayah perkebunan kelapa sawit dan jalur perdagangan narkoba. Warga sekitar mengaku mendengar rentetan suara tembakan panjang yang membuat suasana malam berubah mencekam.
Video yang beredar di media lokal memperlihatkan sejumlah mayat bersimbah darah tergeletak di tengah area perkebunan yang luas. Menteri Keamanan Honduras menyebut lokasi kejadian seperti “adegan neraka” karena banyak korban diduga dieksekusi menggunakan senjata api berkaliber tinggi.
Tragedi ini terjadi tidak lama setelah pemerintah Honduras menyetujui reformasi baru untuk memberantas kejahatan terorganisir. Aturan tersebut memberi kewenangan lebih besar kepada militer untuk terlibat dalam keamanan publik dan membuka kemungkinan geng narkoba dikategorikan sebagai kelompok teroris.
Pihak kepolisian menduga pembantaian berkaitan erat dengan perang perebutan wilayah perdagangan narkoba dan penguasaan lahan perkebunan. Namun kelompok petani lokal menuding ada kepentingan bisnis besar di balik konflik berdarah yang terus terjadi di kawasan tersebut.
Kondisi keamanan di Bajo Aguan sendiri disebut semakin mengkhawatirkan. Warga mengaku hidup dalam ketakutan setiap hari akibat ancaman kelompok bersenjata yang terus berkeliaran di wilayah itu.

