KONOHANEWS.COM, PONTIANAK – Demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, pada Rabu (21/10/2026), diwarnai kericuhan saat massa berkumpul di kawasan Bundaran Tugu Digulis Universitas Tanjungpura (Untan), Jalan Ahmad Yani.
Aksi yang berlangsung hingga malam hari tersebut menarik perhatian masyarakat setelah sejumlah rekaman video memperlihatkan kerumunan besar di sekitar lokasi demonstrasi.
Dalam video berdurasi sekitar 53 detik yang diterima KonohaNews, terlihat kerumunan orang memenuhi area terbuka pada malam hari. Sejumlah orang tampak mengangkat telepon genggam untuk merekam situasi, sementara cahaya terang dan kepulan asap terlihat dari kejauhan.
Berdasarkan laporan media setempat, demonstrasi yang semula berlangsung relatif tertib kemudian memanas hingga terjadi bentrokan antara sebagian peserta aksi dan aparat kepolisian.
Demo Mahasiswa Pontianak, Apa yang Menjadi Tuntutan?
Aksi mahasiswa di Pontianak merupakan bagian dari penyampaian aspirasi terkait sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat Kalimantan Barat.
Menurut laporan Jurnal Borneo, mahasiswa bersama elemen masyarakat menyampaikan 20 tuntutan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Beberapa persoalan yang menjadi perhatian massa meliputi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), keterbukaan informasi pemerintah, serta kesejahteraan masyarakat.
Perwakilan mahasiswa DEMA IAIN Pontianak, Fiqi, menyampaikan kekecewaannya karena menilai pemerintah daerah belum memberikan respons yang memadai terhadap berbagai tuntutan yang disampaikan.
Mahasiswa juga mendesak adanya keterbukaan informasi mengenai pihak korporasi yang diduga terlibat dalam persoalan karhutla.
Situasi Memanas di Bundaran Tugu Digulis
Setelah menyampaikan aspirasi di Kantor Gubernur Kalimantan Barat, sejumlah peserta aksi kembali berkumpul di Bundaran Digulis pada Rabu sore hingga malam.
Menurut laporan InsidePontianak, situasi mulai memanas ketika terjadi pembakaran ban dan pemblokiran jalan yang mengganggu arus lalu lintas.
Petugas kepolisian kemudian mengimbau peserta demonstrasi untuk membubarkan diri.
Namun, sebagian massa masih bertahan di lokasi sehingga ketegangan meningkat.
Laporan media setempat menyebut aparat menggunakan kendaraan penyemprot air (water cannon) dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Bentrokan juga diwarnai pelemparan batu ke arah petugas.
Kemacetan panjang sempat terjadi di sekitar Jalan Ahmad Yani akibat terganggunya akses kendaraan.
Empat Mahasiswa Sempat Diamankan, Polisi Sebut Situasi Mereda
Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto menjelaskan bahwa kepolisian sebelumnya telah memberikan kesempatan kepada peserta aksi untuk menyampaikan aspirasi.
Menurut keterangan kepolisian yang diberitakan ANTARA pada Kamis (22/10/2026), sejumlah anggota kepolisian mengalami luka dalam insiden tersebut.
Empat orang dari kelompok mahasiswa juga sempat diamankan petugas.
Situasi kemudian berangsur mereda setelah dilakukan negosiasi antara koordinator lapangan dan kepolisian.
Dalam perundingan tersebut, koordinator aksi meminta agar empat mahasiswa yang diamankan dikembalikan. Kepolisian menyetujui permintaan tersebut dan membawa keempat orang itu untuk mendapatkan perawatan.
Setelah proses negosiasi, massa mulai mundur dan kondisi di sekitar lokasi dilaporkan berangsur kondusif.
Situasi Terkini Pontianak, Warga Diminta Tetap Waspada
Berdasarkan perkembangan yang diberitakan ANTARA pada Kamis, 22 Oktober 2026 pukul 05.27 WIB, kepolisian menyebut situasi setelah demonstrasi berangsur kondusif.
Akses lalu lintas di sekitar kawasan Bundaran Digulis sempat ditutup hingga malam hari saat penanganan kericuhan berlangsung.
Meski demikian, perkembangan kondisi lalu lintas secara langsung pada Kamis pagi masih perlu dipastikan melalui informasi resmi petugas setempat.
Masyarakat yang beraktivitas di kawasan Jalan Ahmad Yani dan sekitar Untan diimbau memperhatikan informasi pengaturan lalu lintas serta menghindari kerumunan apabila terjadi peningkatan ketegangan.
Demonstrasi merupakan bagian dari hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Karena itu, keselamatan peserta aksi, aparat keamanan, dan masyarakat sekitar perlu menjadi perhatian bersama.

